3 menjelang 4
Rasa. Hai apa kabar? Kalimat inilah nampaknya yang cocok untuk ditanyakan pada sang debu yang menari-nari di hadapanku. Masih hambar? Masih susah untuk mempercayai kata-kata itu? "Iya sangat-sangat susah", jawab sang debu. Debu menjelaskan lagi bahwa setelah dua tahun berlalu, masih tersisa rasa-rasa itu di akarnya belum tercabut sampai saat ini. Iya, masih berhinggap. Rasa khawatir dan takut untuk sekedar mempercayakan sebuah perasaan. Sebenarnya ini hanya masalah sebuah "perasaan", tapi hal itu sulit dijelaskan.
Rasa. Setelah kau tumbuh dan cukup tegak tiba-tiba saja dicabut seenaknya dengan alasan yang.... ah entahlah yang jelas rasa sakitnya masih tersisa di akar-akar. Untuk sekedar memaafkan tantangan ini sudah berhasil ditaklukkannya, namun untuk melupakan? Maaf mungkin rasa ini akan tetap tinggal di akarnya, akan tetap tinggal. Maafkan debu...
Rasa. Untuk rasaku yang baru, mungkin debu ini akan lama menempel pada permukaan yang kau tawarkan. Tetapi rasa, percayalah bahwa debu ini cukup kuat untuk sekedar menemani hidupmu bahkan mengantarmu ke tempat peristirahatanmu. Kau hanya perlu sabar rasa, karena memang debu ini sangat sulit untuk sekedar menerima sebuah hal yang baru.
Rasa. "Bagi rasa yang datang hanya untuk bersenang-senang, silahkan pergi!", tegas sang debu. Selamat datang rasa yang baru jika kau benar-benar ingin bersama sang debu. Ingat, kata kuncinya adalah kesabaran.
Comments
Post a Comment